Home | Archive Login | Register
Kamis, 9 September 2010
 
Lovely Today
ARTIKEL LAIN:
Nada Dan Irama Legian
Holycow Steak Hotel, Radio Dalam
Keriangan Dalam Kesederhanaan
Pantai-Pantai di Kawasan Baluran Situbondo
Ala Para Mamak di Bali Selatan
Cafe Jemme, Krobokan - Bali
Keindahan Karimun Jawa
Arung Jeram, Sungai Citarik
Perkebunan Teh Gunung Mas, Puncak
Agrowisata Apel, Malang
Wisata Makanan Para Gerilyawan
Sabtu, 3 July 2010

Berbungkus daun jati, nasi ini dapat bertahan selama tiga hari! Ukurannya terbilang mini, namun sega jamblang, bukanlah sego kucing. Asal muasal, makanan ini dibuat untuk bekal para prajurit yang akan berangkat ke medan perang, dengan berjalan kaki,sehingga dalam perjalanan yang ditempuh dalam waktu beberapa hari, pasukan gagah berani itu tak kelaparan dan tak kesulitan memenuhi kebutuhan perut mereka. Kalau lapar kan loyo, bagaimana bisa bertempur?

Nasi jamblang dimasak dengan cara tradisional, menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya, kemudian di 'akel' berjam-jam, lalu barulah dibungkus dengan daun jati muda yang khusus untuk nasi. Karena daun jati pembungkus, ada dua macam, untuk daging dan nasi, jadi kalau ingin mencoba memasak seperti itu, jangan sampai salah pilih. Masakan khas yang menemani nasi mungil ini adalah : sambal goreng dari irisan cabai merah, tempe goreng kotak, ikan panjelan, cemplung, cumi bertelor, pepes rajungan dan sejenis semur serta sate kentang yang melambangkan kekhasan Sega Jamblang.

Siang hingga malam hari, salah satu makanan khas kota Cirebon itu terdapat diberbagai daerah. Untuk malam hari, dengan model angkringan, seberang Gerage Mall, arah selatannya, berjajar para penjual sega jamblang, yang dapat menampung sekitar 200 orang (dari keseluruhan penjual). Siap berkeliling di Kota Udang ini? Siapkan perbekalan kalian, dengan tak melupakan berkuliner nasi mungil ala gerilyawan, yang akan membuat kalian kenyang dan ketagihan. Duh, jadi lapar deh! (Nastya)