Eat Pray Love: Makan, Doa dan Kawin di Bali
Selasa, 20 Oktober 2009
Terjual 57 juta kopi, masuk di jajaran "best seller book" versi New York Times selama 57 minggu. Apalagi yang bisa dikatakan untuk buku karya Elizabeth Gilbert ini selain excellent - recommended !
Khusus pembaca Indonesia, mungkin ada dua poin lagi yang bisa menambah daya tarik untuk membaca buku ini. Yaitu cerita tentang Bali dan Julia Roberts. Ya, Julia Roberts yang didapuk memerankan diri Elizabeth Gilbert, saat ini sedang ada di Bali menyelesaikan proses syuting film yang ceritanya berdasar pada pengalaman Elizabeth ini. Kedatangan Julia Roberts ke Bali dan cerita pembuatan film Eat Pray and Love diyakini akan menumbuhkan kedekatan emosional kepada pembaca buku ini.
Cerita buku ini sendiri sebenarnya simpel. Namun gaya tuturan Elizabeth yang mengalir dan terstruktur runtut membuat cerita perjalanannya ke Italia, India dan Indonesia menjadi reportase spiritual yang menghibur dan akhirnya memberi inspirasi. Terutama inspirasi kepada seseorang yang sedang melakukan pencarian jati diri dan keutuhan jiwa yang sebenarnya. Elizabeth lewat buku ini menceritakan pengalamannya untuk bisa melepaskan diri dari midlife crisis. Ketika dirinya di usia tiga puluh satu merasa bingung,sendirian dan panik. Padahal ia punya kehidupan yang di mata orang lain sangat menyenangkan. Punya karir yang sukses, harta lebih dari cukup dan seorang suami yang bisa menyediakan semua yang ia butuhkan. Bagi Elizabeth, semua yang ia miliki saat tinggal di New York bukan memberinya ketenangan. Ia malah terperangkap dalam proses soul searching yang membuatnya ingin keluar dari kehidupan kosmopolitan New York.
Ia pun memutuskan pergi dari Amerika. Pergi ke Italia merupakan langkah awal dari penemuan jiwa yang selama hidupnya belum ia temukan. Ia mulai merasakan cinta, sensasi art, makanan dan kebebasan saat tinggal di Italia. Ia sangat menikmati persahabatan dengan pria Italia yang dinilainya romantik dan hangat. Merasa belum menemukan yang ia cari, Elizabeth lalu pindah ke India. Ia tinggal di sebuah ashram. Di sini ia mulai mengalami eksplorasi spritual yang sesungguhnya. Setelah berguru pada seorang Yogi, ia mengalami proses devotee – pengalaman transenden berkomunikasi dengan Tuhan. Namun di Bali lah ia merasa menemukan balancing dari semua yang ia dapat di Italia dan India. Tinggal di Ubud dan bersahabat dengan Ketut Liyer, seorang guru spritual yang paling dihormati di Bali, membuatnya menemukan jiwa yang ia cari. Elizabeth menemukan kegembiraan duniawi dan kebahagiaan surgawi di sebuah desa kecil di Ubud. Maka menetaplah Elizabeth disana dan menikah dengan laki laki yang ia temukan di Ubud. Ia benar-benar menemukan kehidupan yang berbeda dan membuatnya bahagia. Dalam satu kalimatnya setelah ia tinggal di Bali, Elizabeth mengungkap sukacitanya dengan kalimat " Bahkan dalam celana dalam saya, saya merasa berbeda ".
Insightful adalah kesimpulan yang didapat setelah membaca buku ini. Banyak inspirasi yang bisa ditemukan lewat perbincangan karakter di buku ini. Terutama dari Yogi Hindu di India, juga Ketut Liyer, guru spiritual yang polos, pintar tapi punya visi yang luar biasa tentang makna hidup. Keteguhan dan kesabaran Elizabeth pun mengajarkan bahwa penemuan jiwa yang sesungguhnya bisa berawal dari tempat yang sederhana dan jauh dari kemilau material. (ea)
Judul Buku : Eat Pray Love
Pengarang : Elizabeth Gilbert
Penerbit :
Khusus pembaca Indonesia, mungkin ada dua poin lagi yang bisa menambah daya tarik untuk membaca buku ini. Yaitu cerita tentang Bali dan Julia Roberts. Ya, Julia Roberts yang didapuk memerankan diri Elizabeth Gilbert, saat ini sedang ada di Bali menyelesaikan proses syuting film yang ceritanya berdasar pada pengalaman Elizabeth ini. Kedatangan Julia Roberts ke Bali dan cerita pembuatan film Eat Pray and Love diyakini akan menumbuhkan kedekatan emosional kepada pembaca buku ini.
Cerita buku ini sendiri sebenarnya simpel. Namun gaya tuturan Elizabeth yang mengalir dan terstruktur runtut membuat cerita perjalanannya ke Italia, India dan Indonesia menjadi reportase spiritual yang menghibur dan akhirnya memberi inspirasi. Terutama inspirasi kepada seseorang yang sedang melakukan pencarian jati diri dan keutuhan jiwa yang sebenarnya. Elizabeth lewat buku ini menceritakan pengalamannya untuk bisa melepaskan diri dari midlife crisis. Ketika dirinya di usia tiga puluh satu merasa bingung,sendirian dan panik. Padahal ia punya kehidupan yang di mata orang lain sangat menyenangkan. Punya karir yang sukses, harta lebih dari cukup dan seorang suami yang bisa menyediakan semua yang ia butuhkan. Bagi Elizabeth, semua yang ia miliki saat tinggal di New York bukan memberinya ketenangan. Ia malah terperangkap dalam proses soul searching yang membuatnya ingin keluar dari kehidupan kosmopolitan New York.
Ia pun memutuskan pergi dari Amerika. Pergi ke Italia merupakan langkah awal dari penemuan jiwa yang selama hidupnya belum ia temukan. Ia mulai merasakan cinta, sensasi art, makanan dan kebebasan saat tinggal di Italia. Ia sangat menikmati persahabatan dengan pria Italia yang dinilainya romantik dan hangat. Merasa belum menemukan yang ia cari, Elizabeth lalu pindah ke India. Ia tinggal di sebuah ashram. Di sini ia mulai mengalami eksplorasi spritual yang sesungguhnya. Setelah berguru pada seorang Yogi, ia mengalami proses devotee – pengalaman transenden berkomunikasi dengan Tuhan. Namun di Bali lah ia merasa menemukan balancing dari semua yang ia dapat di Italia dan India. Tinggal di Ubud dan bersahabat dengan Ketut Liyer, seorang guru spritual yang paling dihormati di Bali, membuatnya menemukan jiwa yang ia cari. Elizabeth menemukan kegembiraan duniawi dan kebahagiaan surgawi di sebuah desa kecil di Ubud. Maka menetaplah Elizabeth disana dan menikah dengan laki laki yang ia temukan di Ubud. Ia benar-benar menemukan kehidupan yang berbeda dan membuatnya bahagia. Dalam satu kalimatnya setelah ia tinggal di Bali, Elizabeth mengungkap sukacitanya dengan kalimat " Bahkan dalam celana dalam saya, saya merasa berbeda ".
Insightful adalah kesimpulan yang didapat setelah membaca buku ini. Banyak inspirasi yang bisa ditemukan lewat perbincangan karakter di buku ini. Terutama dari Yogi Hindu di India, juga Ketut Liyer, guru spiritual yang polos, pintar tapi punya visi yang luar biasa tentang makna hidup. Keteguhan dan kesabaran Elizabeth pun mengajarkan bahwa penemuan jiwa yang sesungguhnya bisa berawal dari tempat yang sederhana dan jauh dari kemilau material. (ea)
Judul Buku : Eat Pray Love
Pengarang : Elizabeth Gilbert
Penerbit :



TOUS les JOURS Citra Rasa Authentic Bakery
Lezatnya Masakan Khas "Madam Kwok"
The Ugly Truth
Masayu Melahirkan Caesar