Makam Sunan Gunung Jati: Sebuah Tradisi 'Nyekar'
Jumat, 6 Agustus 2010
Seperti diketahui bersama, bahwa penyebaran agama di tanah jawa, dilakukan oleh Wali Songo. Yang menerapkan sistem penyebaran dengan akulturasi agama dan budaya. Sunan Gunung Jati, merupakan satu dari kesembilan wali tersebut. Perangkulan persuasif yang terbilang berhasil, jenis perbedaan, dapat membawa keberhasilan pada sebuah misi. Dapat dikatakan bahwa, yang terpenting adalah hasil akhir. Namun, secara analisis, proses untuk sebuah pencapaian pun sangat berperan dari suatu keberhasilan.
Lalu, apakah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati merupakan sebuah strategi? Ketika hatinya tertambat pada Putri Ong Tien, Putri kaisar Hong Gie dari dinasti Ming??? Lupakan ururusan percintaan mereka, lihat saja peninggalan yang diberikan oleh kedua belah pihak. Makam Sunan Gunung Jati berada tepatnya di Desa Astana, dengan berbagai hiasan baik lantai atau beberapa bagian tembok yang terbuat dari keramik-keramik China yang memiliki desain unik.
Di komplek makamnya, Sunan ditaruh pada tingkatan paling, tinggi di antara makam keluarga keraton. Ada enam tingkat dengan enam pintu yang membentengi, yang menunjukan rukun imam. Dengan perumpamaan seperti tata letak tersebut, model pemakaman bertingkat mengingatkan pada kepercayaan kejawen. Dan memang sebelum terjadinya proses Islamisasi, masyarakat di tanah jawa, menganut aliran animisme dan dinamisme. Namun, setelah proses tersebut berjalan, beberapa yang melekat pada pelajaran turun temurun tersebut, tidak hilang begitu saja. Berziarah ke makam menjadi sebuah tradisi, dengan berbagai keinginan dari para peziarah yang datang. Dari yang sekedar mengirimkan doa bagi yang telah berpulang, ataupun 'mengilmu'. Tidak ada yang salah dalam hal 'kebiasaan', bukan budaya.
Hal tersebut di atas, dilakukan di makam Sunan Gunung Jati. Jika berkunjung ke sana, siapkan banyak uang receh! Karena jumlah baskom untuk 'sumbangan' dimulai dari pintu masuk hingga mendekati puncak bukit yang terlampau tinggi. Ini pun disebut 'kebiasaan'. Kembali ke makam, pada Astana Gunung Jati, yaitu Makam Sunan Gunung Jati, tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang beragama Islam, tetapi juga penganut agama Budha dan Konghucu dari etnis Tionghoa. Mereka datang ke kompleks pemakaman untuk Ziarah ke makam Ong Tien, Putri yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati. Di sini lah kita dapat melihat hasil dari perkawinan dengan perbedaan etnis yang memang beragam di bumi Indonesia. Mari gunakan 'kebiasaan' yang baik – dengan mengirimkan doa kepada para leluhur kita, sehingga mungkin suatu saat nanti, akan tercipta sebuah budaya baru. (Nastya)
Travel Articles
Others Articles
- Robert Pattinson Beradegan Seks Dengan Kristen Stewart
- The Open Road Benturkan Anak Yang Cari Jati Diri Dan Ayah Yang Terlalu Mencintai Diri Sendiri
- Mesin Fax Panasonic Berlayar Sentuh
- Semua Terlahir Untuk Menjadi Orang Baik
- Puasa Nikita Willy Main Sinetron Komedi
- Cut Tari Minta Bantuan Peradi
- 3-Iron Kisahkan Cinta Segitiga Yang "Menghantui"



Nempel Di Ampel - Kawasan Wisata Religi
Lelap Setelah Terhibur Musik Pantai
Nyanyian Rindu
Sniper Stand Penyangga iPhone Nan Praktis
Fantastic Fall by LeSportsac