FOLLOW US

Tak Ada Lagi Yang Ku Nanti Di Jembatan Ini

Jumat, 21 Mei 2010

Tak Ada Lagi Yang Ku Nanti Di Jembatan Ini
Riwayat Jembatan Merah dari dulu hingga kini, adalah tempat silih berganti yang melintas di atasnya, di kota Surabaya. Namun tercatat dalam sejarah, pada era VOC, jembatan ini begitu vital, merupakan sarana perhubungan melewati Kalimas (pecahan Sungai Brantas yang berhulu di Mojokerto) ke arah Gedung Keresidenan Surabaya – yang kini sudah tak ada lagi. Selain itu, sejarah Indonesia, Surabaya terutamanya, yang sangat identik dengan perjuangan arek-areknya, pada tahun 1945, mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Dengan semboyan "Merdeka atau Mati", dengan gagah berani, arek-arek Suroboyo dengan senjata apa adanya menghadapi kekuatan penjajah yang menggunakan senjata modern.

Peristiwa yang sangat terikat oleh jembatan ini yang pada masa itu terdapat gedung Internatio ; merupakan markas Pasukan Komandan Brigade ke-49 Inggris, yang bertugas di Surabaya. Tepat pada tanggal 30 Oktober 1945, dari kedua tempat tersebut (Jembatan Merah & Gedung Internatio), terjadi baku tembak, yang mengakibatkan tewasnya Brigjen Mallaby (salah satu anggota Kontak Komisi). Peristiwa tersebut menjadi besar, dan cukup memakan korban, karena baru pada tanggal tersebut (disiang harinya), telah diadakan /ditandatangani Surat Perjanjian Gencatan Senjata, antara Presiden RI Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Namun dugaan tewasnya Brigjen Mallaby akibat tembakan milisi Indonesia, mengamuklah para tentara Inggris, dan mengirimkan ribuan pasukannya ke Surabaya. Peperangan pun tak dapat dihindari. Korban pun semakin banyak berjatuhan. Begitulah singkat sejarah yang pernah terjadi di jembatan, yang mencolok dengan warnanya yang berwarna merah.

Peristiwa tersebut, mungkin saja menginspirasi Gesang, untuk membuat lagu keroncong dengan judul Jembatan Merah. Inilah penggalan lirik lagu tersebut :

Jembatan Merah, sungguh gagah.. berpagar gedung indah
Sepanjang hari.. yang melintasi.. silih berganti

Andainya patah, akupun bersumpah
Akan kunanti dia.. di sini bertemu lagi

Namun, kini, tak ada lagi yang ku nanti di jembatan ini, karena kau telah pergi untuk selamanya, meninggalkan namamu yang harum dan mahakarya nan abadi. (nastya)

Dedicated to Sang Maestro Keroncong – Gesang (1 Oktober 1917 – 20 Mei 2010)