Home | Archive Login | Register
Rabu, 8 September 2010
 
Lovely Today
 
ARTIKEL LAIN:
Perpisahan? "I Will Survive!"
Solusi Berujung Pertengkaran
Kembalikan Emosi Labil Menjadi Stabil
Bersiaplah untuk mendapatkan apa yang diinginkan di Tahun Macan
Cinta dalam profesionalisme : Jalaran Soko Kulino yang Salah Kaprah?
Selasa, 13 April 2010
Jalaran soko kulino adalah pepatah dari tanah jawa yang mengisyaratkan sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi akibat. Perbuatan. Dan juga rasa. Budaya pernah melakukan sebuah tradisi dengan perjodohan. Dua orang anak kecil pun sudah diikat oleh orang tua mereka, dengan perjanjian akan dinikahkan menjelang dewasa. Nasib pun sudah diarahkan sejak awal. Pernikahan itu pun terjadi. Tanpa ada pihak yang memahami bagaimana hati kedua anak yang sudah dewasa itu menjalani nasib yang sudah ditentukan. Nanti juga terbiasa. Cinta datang dari kebiasaan. Jalaran Soko Kulino. Kalimat murni yang seringkali disalahgunakan untuk sebuah penyangkalan semu.
Waktu pun terus berjalan, budaya bertranformasi menyesuaikan si empu nya. Kekinian. Kesibukan. Kebutuhan. Semuanya menghimpit, menjadi sebuah hal yang instan. Jika tak ada yang menyadari bisa menjadi bumerang. Bumerang yang sensasinya terasa menyengat. Tahu resikonya namun itu urusan belakang. Atau terlalu lemah dan menyerah dengan sesuatu yang sebenarnya fatamorgana.
Jalaran soko kulino itu pun menjadi bumbu di urusan kerja, perkantoran, relasi bisnis. Kini tak lagi hanya wanita dan pria yang sudah terikat komitmen pernikahan pun melakukannya. Tidak semuanya. Masih banyak juga yang tetap berpegang teguh pada perjanjian nikah. Namun yang akan dibahas ini adalah bagaimana sebuah hubungan cinta itu terjadi justru di tempat yang seharusnya bersikap profesional tanpa mencampuradukkan dengan emosional. Tahu itu keliru tapi sulit menghentikannya. Kenapa? Dibutuhkan satu baut rasa yang sudah lama tidak dilumasi dengan minyak kesadaran hati. Tujuan hidup.
Suami istri ataupun pasangan yang sudah bertunangan, sama – sama bekerja dengan kesibukan yang tak semakin kenal waktu. Hingga saat tiba di rumah, atau bertemu muka satu sama lain, timbullah sebuah kebiasaan. Terbiasa. Tanpa disertai Empati Hati. Yang sering terlupakan pasangan yang seharusnya saling menjaga ini justru melupakan tujuan. Saat mereka berjanji untuk saling melengkapi satu sama lainnya dalam suka dan duka.
Suka selalu menyenangkan, penuh dengan kenikmatan apalagi saat intimasi dan kemesraan tejaga. Namun kala duka itu datang berupa stres pekerjaan dari masing – masing kantor. Maka ego pun menjadi benteng pembelaan diri yang seharusnya tak ada di antara pasangan suami istri. Untuk apa membentengi diri dari belahan hidup Anda. Ini jelas salah. Kerapuhan mulai berbenih. Hingga masing – masing merasa, pasangan tak lagi seperti dulu. Menjadi asing satu sama lain.
Pikiran yang tak terkomunikasikan inilah yang bisa menjadi momok. Bom waktu yang membisu, namun jelas menghancurkan sebuah ikatan. Hingga jika lemahnya hati sampai pada rasa jemu. Mendadak menemukan sebuah penyegaran rasa kala bisa mencurahkan kepada seseorang. Dengan orang baru itu semuanya terasa lebih mudah. Lebih ringan. Dan lebih segar. Hidup Anda berubah menjadi semangat. Dan terlena.
Disinilah akal sehat dipertaruhkan. Mampukah Anda menundukkan fatamorgana jalaran soko kulino ini ? Atau Anda akan terhanyut di dalam sungai yang tak berujung namun menyejukkan hati Anda. Tapi melupakan ada tanggung jawab hidup yang sudah Anda lakukan bersama seseorang yang lebih berhak menjalaninya dengan Anda. Pasangan Anda.
Lain hal kalau memang Anda mengakui Anda adalah tipe yang tidak bisa terikat pada satu pasangan. Itu lain soal tapi bukan juga pembenaran. Semua yang berujung pada penderitaan hati orang lain ini perlu dirapikan. Atau tujuan hidup Anda akan semakin tidak berujung. Percayalah ini buang – buang waktu. Hal – hal positif akan jauh dari Anda. Sudah banyak kejadian yang menunjukkan love affair jika tidak segera diatasi maka akan berakibat kerugian. Emosi. Hati. Materi. Status. Karir. Jati diri. Identitas. Kwalitas yang sudah selama ini Anda bangun. Luluh dalam instannya sebuah godaan.
Jika sedang dalam situasi , segeralah putar arah lihatlah seseorang ataupun yang sedang berjuang bersama Anda dengan tujuan hidup yang akan dijalani dalam suka dan duka. Pasangan sejati Anda. Atau jika Anda masih lajang. Posisikan diri Anda sebagai seseorang yang sedang ditinggalkan begitu saja. Hiduplah dengan keseimbangan hati dalam suka dan duka. Maka semuanya akan terasa harmonis. ( cp )