Perempuan mana di kota besar yang tidak tahu Coco Chanel? Tidak! Bukan orangnya, melainkan produk yang dihasilkannya. Coco Chanel adalah salah seorang perancang mode revolusioner dan pembuat parfum terkenal di dunia. Lahir 19 Agustus 1883, di Saumur, Perancis dengan nama Gabrielle Bonheur Chanel. Banyak melahirkan rancangan kontroversional pada masanya, dan salah satu inovasinya yang terkenal adalah parfum Chanel No. 5, yang diluncurkan pada tahun 1932. Saat ini, seluruh kota mode dunia menjadikan brand tersebut sebagai bahan perbandingan. Coco Chanel adalah pelopor perubahan fashion bagi wanita. Ditemukan meninggal di Hotel Ritz, Paris, pada tahun 1971, dan saat itu Coco, masih tidak terikat pada sebuah lembaga pernikahan.
Kehidupannya yang begitu penuh liku, menginspirasi tiga sutradara membuat film berbeda, dengan seorang Chanel sebagai subyek imajinasi mereka. Besutan Anne Fontaine memulai awal rilis film mengenai desainer fenomenal tersebut. Wanita kelahiran Luxemburg ini, memberikan kekuatan 'super woman' menjadi salah satu karyanya, terbilang baru dalam menyutradarai sebuah film. Namun karirnya yang dimulai sebagai pemain, penulis naskah cukup menjadi modal awal baginya. Terlebih karena Anne cukup menyelami perfilm-an Perancis, yang aroma sensual-nya begitu kental. Dengan setting tahun 1913, Fontaine memberi kejelasan mengenai Coco Chanel yang bermula bekerja pada sebuah klub malam sebagai penyanyi. Lalu kisah pun bergulir, kehidupan Coco Avant Chanel (original title), yang diperankan oleh Audrey Tautou, aktris Perancis, yang memulai debut acting pada serial televisi local sana. Kisah dimulai dengan gadis Coco yang baru ditinggal mati oleh ibu-nya, kemudian dititipkan ke biara oleh sang ayah. Berikutnya sedikit flash back perempuan yang telah dewasa itu, merasakan getir kehidupan, menanti sosok ayah yang diharapkan datang menengoknya di panti. Sampai akhirnya Coco bertemu pria bernama Baron Balsan (Benoît Poelvoorde) yang mengantarkan ke kehidupan kelas mewah di Perancis.
"Fashion is not only about close, fashion is on the sky, fashion is on the street, fashion is everywhere", dialog yang diucapkan Shirley Maclaine sebagai Gabrielle 'Coco' Chanel yang telah memiliki butik mewah di Deauville, Paris. Tokoh penggebrak gaya berpakaian wanita dengan berawal menjual berbagai topi, jacket dan baju "pelaut" yang cocok digunakan di luar ruangan. Pada tahun 1929, Chanel merubah pandangan tentang cara berbusana wanita dan memperkenalkan wanita pada celana panjang (yang tidak hanya untuk wanita kaya) dan pakaian olahraga untuk wanita lainnya. Adegan diambil pada peragaan busana yang terselenggara di butiknya, ditinggalkan oleh para tamu, karena desain pakaian yang ditampilkan tidak 'bernyawa', dan Chanel pun terancam bangkrut! Kemudian mengenang masa lalu mulai dituturkan, Coco Chanel yang baru keluar dari biara pada usia 18 tahun, diperankan dengan amat sesuai dengan lidah Perancis, Barbora Bobulova, seorang aktris kelahiran Slovakia, dataran Eropa, yang sudah tentu lebih ciamik mengambil dialog-dialog dalam bahasa Perancis. Berbeda dengan Macline yang berasal dari Virginia – Amerika. Itulah besutan sutradara Christian Duguay. Tetapi alur kisah yang dituturkan lebih mendetail. Jika kita hanya tahu bahwa Chanel tidak menikah, itu bukan kehendaknya. Keadaan. Sebuah alasan klise, tetapi divisualkan dengan baik. Chanel hanya tak terikat pada lembaga pernikahan, namun, hatinya, "Boy Capel adalah cintaku". Seorang pemain polo asal Inggris, yang bernama lengkap Captain Arthur Edward 'Boy' Capel (Olivier Sitruk), yang meninggal dalam sebuah kecelakan mobil saat akan kembali ke dalam pelukan Chanel. Kematian pria 'milik' wanita itu, menjadi inspirasi baginya, warna hitam adalah ekspresi Chanel akan kedukaan yang dalam akan kehilangan kekasihnya. Sehingga hampir semua yang dikenakan wanita itu berikut hasil rancangannya, hanya ada hitam yang dijadikan gaya classy buat karya seorang Chanel.
Seorang pianis dari Rusia – Igor Stravinsky (Mads Mikkelsen), dalam show tari dan konser musik, mendapat respons buruk dari penontonnya. Tujuh tahun kemudian, Chanel (Anna Mouglalis), menawarkan bantuan, kerjasama. Musik oleh Igor, dan busana pemain orchestra & penari oleh Chanel. Igor dengan empat orang anak dan seorang istri yang dalam keadaan sakit pun tinggal bersama wanita elegan tersebut. Affairs pun tak terhindari. Adegan cumbu rayu khas Perancis yang memperlihatkan separuh atau seluruh tubuh, tak tampak porno ataupun seronok, namun tetap menunjukan gairah pada hubungan tersebut. Itulah yang dituangkan Jan Kounen. Hilangnya masa berduka Chanel, tetapi tidak cintanya pada Boy Capel. Karena pada akhirnya, Chanel dan Igor pun tidak bersatu. Saat sahabat Chanel menanyakan apa nama untuk parfum yang racikannya dicari hingga ke Greek, apakah akan nama Rusia? "No, it's Chanel number 5"! (Nastya)
- COCO BEFORE CHANEL ; cast : Audrey Tautou, Benoît Poelvoorde ; directed by : Anne Fontaine
- COCO CHANEL ; cast : Shirley Maclaine, Barbora Bobulova, Olivier Sitruk ; directed by : Christian Duguay
- COCO & IGOR ; cast : Anna Mouglalis, Mads Mikkelsen ; directed by : Jan Kounen