FOLLOW US

My Body: Tentang Tubuh dan Perempuan

Senin, 19 Oktober 2009

My Body: Tentang Tubuh dan Perempuan

Sebuah eksibisi untuk menggali representasi perempuan perupa tentang tubuhnya sendiri. Tentang tubuh perempuan yang selama ini dijadikan obyek semata.

Nuansa sejuk langsung menyengat begitu memasuki areal Lower Ground East Mall, Grand Indonesia. Sejauh mata terdapat sejumlah obyek yang menarik perhatian. Tak hanya lukisan, beberapa patung dan rupa-rupa aplikasi seni instalasi menyeruak. Sejumlah pengunjung memperhatikan, di sudut lain sejumlah pelajar malah sibuk berfoto-foto.

Pameran bertajuk My Body diselenggarakan untuk mengkhidmati tubuh perempuan. Tubuh perempuan sering dijadikan 'objek' yang dilihat dari berbagai disiplin ilmu, kepentingan sosial, politik, hingga wacana. Tubuh perempuan tidak lagi dilihat sebagaimana sekumpulan tulang, daging, dan segala organ biologisnya, tetapi pada tubuh perempuan berbagai makna ditanamkan.

My Body menghadirkan sejumlah karya yang bisa diperhitungkan. Di beberapa bagian juga bisa dikategorikan provokatif. Lihatlah karya Rennie Emonk berjudul Nevermind Who's The Bo(y)s, Here Comes The Loro Blonyos. Rennie menterjemahkan tema eksibisi berupa dua patung mirip (maaf) penis yang menggambarkan sepasang pengantin. Dengan caranya sendiri, Koniherawati memakai media manekin yang dilukis dengan tonjolan leher yang memunculkan besi berbentuk hati dan arah panah, sementara pada bagian badannya dilukis empat penjuru mata angin yang menunjuk pada buaya (utara), leak (barat), harimau (selatan) dan naga (timur). Lantas ada Neneng S Ferrier dengan dua karya instalasi berjudul Inner Beauty dan Reborn. "Dengan "Inner Beauty" saya ingin mengutarakan pendapat saya bahwa sebagai seorang wanita alangkah indahnya apabila selain mempunyai wajah yang cantik tetapi juga memiliki hati yang mulia, " katanya.

Tiarma Sirait, yang bisa dijuluki Miss Pink, juga turut menghadirkan serial lukisan. Penggemar seni sering mengkaitkan Tiarma dengan Midas. Jika apapun yang disentuh Midas menjadi emas, maka Tiarma menjadikannya pink. Di Pretty Pink in Peking ada seorang gadis berwajah oriental dengan busana serba pink tengah berjalan di sekitar pepohonan bambu. Sementara di Pink Roses All For You memperlihatkan seorang gadis yang bergaya bak diva menghamburkan bunga mawar di tengah ratusan orang.

Tak lama, sejumlah pria tegap berambut cepak memasuki areal eksibisi. Beberapa diantaranya serius memperhatikan, beberapa lagi garuk-garuk kepala. Mungkin bingung, mungkin juga didalam hati mengakui kelugasan seniman perempuan yang berkarya kini. (ipe/photo: istimewa)