 |
Merekam Hitam Putih Manusia Indonesia
Rabu, 20 Januari 2010
|
Melihat serba-serbi Indonesia dari dekat memang menyenangkan. Terlebih jika kita bisa masuk jauh ke dalam kehidupan masyarakatnya. Nah, bagaimana jika yang melihat Indonesia justru dari orang luar, semisal orang Jepang?
Iwasaki-San, warga negara Jepang, mencoba bercerita tentang masyarakat Indonesia lewat foto. Ia bercerita apa yang ia lihat di waktu senggangnya selama 15 tahun tinggal di Indonesia. Tentu foto seorang direktur perusahaan multi-internasional itu tak terlalu fokus pada soal estetika jepretan. Ia ingin lebih jujur mengandalkan keluguannya terhadap gambaran kehidupan rakyat SBY lewat foto hitam putih. Iwasaki-San atau akrab disapa Samsul itu memamerkan foto bidikannya di Pusat Kebudayaan Jepang di Menara Sumitmas I, Sudirman dari 15 - 30 Januari 2010. Puluhan foto ia pajang berikut keterangan apa yang ia gambarkan.
Dalam setiap pengembaraannya, Samsul tak membuat rencana apapun, ia hanya mengikuti kaki melangkah. Apa yang dilihat, menarik, langsung dibidik. Samsul memakai insting 'norak' sebagai Jepang yang memandang Indonesia. Mungkin jika yang melihat foto-foto tersebut orang Indonesia, terkesan biasa saja. Namun Samsul dengan keluguannya memandang itu sangat luar biasa dan berbeda dengan apa yang ia biasa lihat di negaranya.
Menurut beberapa pengunjung, foto karya Samsul begitu berkarakter. Kekuatan fotonya terdapat dalam bingkai "hitam putih" itu. Saking kuatnya karakternya, tak ayal bisa memunculkan imajinasi, interpretasi dan persepsi yang berbeda-beda dari foto tersebut. Misal saja, Samsul pernah memotret seorang lelaki tua keriput yang sedang menggotong karung di Banten. Teman-temannya mempunyai imajinasi saat melihat foto itu dengan menggambarkan tema kegetiran hidup sang kuli panggul. Namun 'kacamatanya' berbeda dengan Samsul yang lebih sederhana memandang itu sebagai lambang kerja keras untuk menyongsong hari esok.
Ada lagi potret perempuan tua yang sedang berada di warung menjajakan cabai di pasar. Si ibu tua itu digambarkan dengan tersenyum, seolah tak terjadi apapun di dalam hidupnya. Samsul tak hanya sekedar memotret, ia juga berinteraksi dengan obyeknya secara langsung. Peristiwa interaksi itulah yang ia pakai untuk mewakili pesan foto itu. "Foto ibu akan saya pamerkan di pameran foto nanti, boleh ya?" Begitu kata Samsul saat itu. Si ibu pun menjawab, "o gitu... Lalu apa hadiahnya jika foto saya jadi juara?" Begitu kisah Samsul sembari ketawa.
Uniknya, Samsul tak diperbudak oleh tekhnologi fotografi. Katanya, kekuatan fotonya berada pada 'rasa' dan 'cerita' saat mengabadikan gambar. Untuk menghasilkan gambar yang bagus, tak tergantung dengan kecanggihan kamera. Hampir 15 tahun mengabadikan Indonesia, Samsul masih memakai kamera Mamiya C220 kesayangannya. Kamera itu masih memakai pita seluloid sebagai media menggoreskan cahaya yang dipantulkan dari objek. Kamera itu ia beli dengan harga 2 juta rupiah. Ia juga kerap mengandalkan Nikon F3, dan masih ada beberapa kamera 'jadul' yang ia andalkan untuk merekam Indonesia dari dekat. "Rasa" dan "cerita" memang tak bisa dibeli dengan teknologi secanggih apapun. (pbb)
|
|
|
|
|
|
|