 |
Tenganan : Sebuah Representasi Kritis Terhadap Tradisi
Senin, 16 November 2009
|
Tradisi selalu membedakan antara 'orang dalam' dan 'orang luar', karena partisipasi dalam ritual dan penerimaan terhadap kebenaran formulatif adalah syarat bagi keberadaan tradisi.
Anthony Giddens, 2003.
Mengutip pandangan GIDDENS diatas, tradisi adalah sebuah citra yang telah terpatri pada BALI, sebuah pulau yang mungkin sudah ditakdirkan dari dulu sebagai 'surga terakhir' ini sampai sekarang masih memelihara tradisi di tengah gempuran kebudayaan dan arus global. Sebuah tradisi inilah yang memunculkan jalan kritis seorang Alit Suaja, melalui jalan representasi tentang Tenganan.
Dalam pamerannya yang berlangsung mulai tanggal 12 - 22 November 2009, bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Galeri C, Alit mengambil tema “TENGANAN”. Kali ini Alit berusaha memberitahukan masyarakat luas bahwa suatu tradisi, dewasa ini sudah banyak mengalami perubahan akibat pergesekan dengan arus globalisasi. Dan disinilah dirinya memamerkan karya-karyanya yang merepresentasikan sebuah tradisi itu sendiri.
Bagaimana seorang Alit Suaja bisa menghasilkan representasi akan Tenganan dimulai sejak tahun 2006. Kala itu dalam berbagai kesempatan, ia kerap hadir di Tenganan untuk melakukan riset dan observasi. Pengamatan terhadap desa Tenganan itu dilakukannya dengan cara mencermati setiap peristiwa, orang-orang, benda-benda dan seluruh kejadian yang ada disana dengan menggunakan kameranya. Setelah itu Alit menuangkan hasil observasi dan risetnya melalui lukisan diatas kanvas, sehingga menjadikan karyanya yang sekarang ini sedang dipamerkan.
Pengamatan Alit Suaja terhadap kritisasi Tenganan pada mulanya hadir dalam lukisan serupa refleksi belaka. Lihat misalnya Bocah Tenganan (2006). Lukisan ini sungguh-sungguh (hanya) memotret bocah Tenganan dalam balutan busana kebesarannya. Di latar belakang menjuntai kain khas Tenganan dalam posisi close-up. Bocah Tenganan dan kain khas Tenganan adalah teks tentang Tenganan. Selanjutnya keleluasaan Alit dalam membaca tradisi Tenganan, yang sedang bergesekan dengan budaya konsumsi dapat dilihat dari karyanya yang berjudul Nonton Bareng, yaitu sekumpulan gadis Tenganan yang sedang melihat handycam dan Trend, yang menghadirkan seorang gadis Tenganan yang sedang terkagum-kagum pada poster iklan kosmetik.
Begitulah seorang Alit Suaja, pelukis muda asal Bali, yang juga lulusan Institut Seni Indonesia Denpasar, mencoba melakukan representasi kritis terhadap tradisi Tenganan. (rar)
|
|
|
|
|
|
|