FOLLOW US

'Dari Sebuah Guci': Mengkritisi Pluralisme Yang Semakin Tipis

Kamis, 12 Januari 2012

'Dari Sebuah Guci': Mengkritisi Pluralisme Yang Semakin Tipis
Kegelisahan mulai lunturnya pluralisme bangsa ini dituangkan Muna Panggabean dalam buku berjudul 'Dari Sebuah Guci'. Muna tidak sendiri, bersama sejumlah penulis, musikus dan komposer dalam karya 'Dari Sebuah Guci' mengajak seluruh masyarakat di Tanah Air bergerak bersama memantabkan pluralisme yang kini dirasakan mulai jauh dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Muna dalam pre launch yang digelar di Jakarta, Rabu (11/1) menjelaskan, ada 18 cerpen dalam 'Dari Sebuah Guci', dengan berbagai topik dan latarbelakan yang berbeda. Diantaranya cinta antara dua anak manusia yang berbeda keyakinan, percintaan sejenis, fundamentalisme, kerinduan seorang lelaki Batak untuk berwudhu dengan air Danau Toba dan masih banyak lagi.

"Saya percaya, semua ini bisa pulih, ketika kita tidak menyerahkan penyelesaiannya pada orang lain, tapi kita bertanggungjawab paada diri sendiri untuk memulihkan ini dengan langkah-langkah kecil kita," kata Muna Panggabean.

Muna Panggabean menambahkan, banyak kejadian-kejadian kecil di sekitar masyarakat yang luput dari perhatian selama ini. Kejadian-kejadian yang akhirnya memicu pertentangan dan menyulut perbedaan. Namun, katanya, masyarakat cenderung diam dan tidak berupaya untuk mengubahnya bersama-sama.

Gerakan 'Dari Sebuah Guci' sendiri, kata ibu rumah tangga ini, akan terus menggelorakan semangat pemulihan Indonesia melalui karya-karyanya. Gerakan yang akan selalu menghidupkan perlunya menyemai semangat pluralisme, menghargai keberagaman di tengah-tengah masyarakat.

"Selama ini kita telah lupa bagaimana kita berbuat untuk sesama," tandasnya.

Peluncuran karya perdana 'Dari Sebuah Guci' rencananya akan dipersembahkan kepada masyarakat Indonesia 25 Januari dan pertunjukkan musikalisasi puisi dengan 22 buah lagu yang melibatkan artis-artis Tanah Air dan luar negeri.

Musikalisasi puisi sendiri digarap oleh komposer Aminoto Kosin dan Andreas Lim. Selanjutnya, buku berseri 'Dari Sebuah Guci' dan himpunan lagu akan terus dipublikasikan kepada masyarakat sebagai salah satu upaya menggelorakan semangat pluralisme di Tanah Air di masa mendatang(and)