FOLLOW US

Nia Dinata, "Bikin Film Seperti Kita Melahirkan Bayi.."

Jumat, 2 Desember 2011

Nia Dinata, "Bikin Film Seperti Kita Melahirkan Bayi.."
Nia Dinata yang akrab disapa Teh Nia terbilang mampu mengemas kehidupan dari berbagai sudut pandang yang menarik dalam sebuah film. Kekuatan film karya-karya Nia bisa terbilang melawan arus. Tema-tema feminisme, kehidupan trans-gender, kaum yang terpinggirkan atau kehidupan pecinta sejenis menjadi nilai lebih karya film yang lahir dari tangan dinginnya sebagai seorang sutradara sekaligus produser.

Simak saja film 'Madam X' seorang superhero trans-gender. Sangat kontras sekali dengan sosok seorang superhero yang lazim dan identik dengan pria berotot, postur tubuh sempurna yang dibalut wajah nan rupawan. Atau 'Quickie Ekspress', kehidupan kaum gigolo yang dibungkus jasa pengantar pizza dan masih banyak lagi. Dan terbaru 'Arisan!2' yang kental nuansa kehidupan para sosialita kota metropolitan yang dikemas secara menarik, fun dan berisi.

Menarik rasanya dapat berbincang-bincang lebih dekat dengan Teh Nia. Dalam sebuah kesempatan lovelytoday.com bertatap muka langsung dengan Teh Nia. Ada banyak hal yang bisa dikupas baik dari setelah 8 tahun akhirnya film 'Arisan!2' diproduksi , pandangannya tentang film, dan harapan-harapannya khususnya di dunia sinematografi. Berikut petikan wawancaranya:

'Arisan!2' akhirnya menghiasi layar lebar tanah air. Kenapa pada akhirnya muncul sekuel film 'Arisan!'?
Jadi sebenarnya tidak pernah direncanakan untuk bikin sekuel. Lalu, setahun setelah rilis 'Arisan!', kira-kira Desember 2003, ada tawaran untuk bikin serialnya. Untuk serial, aku pikir mungkin tidak apa-apa, asal bisa syuting pakai film dan tetap dengan pemain yang sama. Rencananya akan dibuat 39 episode tapi karena masalah internal dari pihak stasiun televisi, mereka hanya menyanggupi 26 episode. Kemudian, setelah selesai syuting serial, para 5 pemain intinya mengajak saya untuk membuat sekuelnya..

Lalu, bagaimana ceritanya hingga akhirnya ide tersebut diseriuskan?

Nah, di awal 2010, aku melihat kok belum ada film Indonesia untuk kategori mature audience, natural, but at the same time it has a message, enjoyable, bandel, ya all out, gitu, deh, tanpa memikirkan harus jadi film religi atau jadi film horor. Lalu, aku ada ide. Saat itu bukan 'Arisan!', tapi memang syutingnya ada yang di Amerika dan Indonesia. Trans Sumatra. Sudah jadi skripnya. Aku pun karena saat itu sedang dapat fellowship di Amerika Serikat jadi sekalian riset tentang imigran gelap di Amerika Serikat yang awalnya datang dengan visa turis sampai akhirnya berhasil sukses dan balik ke Jakarta. Pemainnya waktu itu Edward yang awalnya saya kenal di Cannes Film Festival. Sayangnya, semua tidak semudah itu karena kru inti yang aku bawa harus dicek secara ketat. Apalagi, karena di sana sedang krisis ekonomi, maka Union di sana menawarkan untuk memakai kru lokal sana. Setelah itu berlalu, untuk mengobati diri, aku langsung menulis sesuatu yang berbeda. Akhirnya, mulailah menulis dengan karakter-karakter yang ada di 'Arisan!', tapi 7 tahun kemudian. Setelah jadi, rough naskahnya, aku undang 'the geng of five' (pemain utama) dan ngobrolin ide tersebut. Dan, mereka menyetujuinya. Tapi, karena ceritanya berkembang dan kami membutuhkan karakter-karakter baru, maka sejak akhir tahun lalu sampai Maret kami baru selesai casting. Kami reading bulan Mei dan pada waktu yang bersamaan juga syuting di Yogyakarta. Bukan hanya di Yogyakarta, kami juga syuting di Gili dan Lombok!

Ada banyak pembaharuan dalam kisah yang tertuang di 'Arisan!2'. Boleh dikata ceritanya agak berat dibanding film 'Arisan!' pertama?
Sebenarnya lebih merefleksikan apa yang aku lihat sehari-hari. Merefleksikan concern-concern aku akan isu persahabatan, hubungan pria sejenis, feminism. Untuk hubungan sejenis kan biasanya diwarnai putus nyambung dan gonta- ganti pasang. Kalo kita lihat Meimei (Cut Mini) di Arisan!2 terkena kanker ide awalnya di 2010 menginjak usia ke-41 saat menulis aku kepikiran kok temen-temen sakit . lalu muncul pertanyaan bagaimana hal itu menimpa diri kita. Hal itu menjadi keprihatinan aku dan akhirnya aku tuangkan di 'Arisan!2'

Kenapa isu hubungan sejenis tidak mengangkat soal AIDS, malah kanker yang menjadi muara cerita?

Awalnya sempat pemikirannya ke arah isu AIDS tapi terlalu stereotipe. Selalu saja AIDS dihubungkan dengan orang gay. AIDS bisa menyerang siapa aja. Kita di film 'Arisan!2' membikin karakter yang bertanggung jawab soal hidup. Ambil contoh tokoh Meimei yang terkenal sehat, dan rajin yoga terkena kanker, tapi survive, fun dan mampu mengatasi masalah itu dengan senyum meski hidupnya tidak lama lagi. Intinya penyakit tak pandang bulu bisa mengenai siapa saja.

Anda sudah siap untuk menuai reaksi dengan mengangkat lagi cerita tentang hubungan sesama jenis?

Sebenarnya, ceritanya bukan hanya tentang Sakti dan Nino, ada cerita yang lainnya juga kali, ha-ha-ha! Aku tidak memfokuskan pada sexual relationship, tapi lebih emotional relationship. Pada 2003, saat Lembaga Sensor Film masih dipegang dengan Ibu Titie Said, aku dipanggil, tapi akhirnya diloloskan. Semakin ke sini, makin kacau karena 'Arisan!' dijadikan bahan perbandingan kelolosan untuk sejumlah film lain. Aku tidak pernah khawatir, tapi kemungkinan kontroversi selalu ada. Kalau tidak dari kelompok garis keras, pasti dari kelompok yang sedang berkuasa di sebuah negara. Jadi, ya saya siap-siap saja. Yang bilang itu tidak tak hanya lembaga sensor, tapi sebuah korporasi besar dan masyarakatnya sendiri. Kalau dilihat di forum-forum besar, banyak sekali komen yang miring. Tapi, ya sudahlah yang penting kami membuat itu accessible.

Beberapa film yang dibuat sekuelnya di Indonesia kebanyakan tidak seberhasil yang pertama. Sebenarnya, seperti apa standar seorang Nia Dinata dalam membuat sekuel?
Sebelumnya, aku belum pernah bikin sekuel. Selain itu, banyak sekali yang kangen dengan this five beloved characters. So, I just want to give a chance untuk berinteraksi lewat film dengan kelima karakter gila itu, ha-ha-ha! Kalau ternyata mereka bisa dapat lebih dari interaksi dan having fun, that's great!

'Arisan!' Kala itu mendapat banyak penghargaan, apakah lantas menjadi beban bagi Teh Nia dan 'Arisan! 2'?
Ya, penghargaan itu bonus ya! Aku tidak pernah memikirkan penghargaan saat membuat film karena ya suka membuat film! That's the most important thing! Kalau untuk festival Internasional, aku selalu berpartisipasi because I want Indonesia to be in the map of world. Kenapa? Sejak film Pertaruhan (2010) sampai 'Madame X,' film Indonesia tidak ada yang ikut dalam festival luar negeri. Orang-orang yang sering berkecimpung di dunia festival film seperti John Badalu bahkan wartawan luar negeri juga menanyakan tentang eksistensi film Indonesia. Film Indonesia sudah lolos seleksi dalam kancah Internasional saja sudah prestasi, jadi, ya, yang penting ada di peta perfilman dunia.

Adakah pesan yang ingin disampaikan di 'Arisan!2'?
Lebih pada menyikapi hidup dengan fun namun, tidak berarti seenak saja. 'Arisan!2' bisa saja dibuat menjadi kisah sedih disaat Meimei divonis kanker dan tidak berumur panjang lagi. Tapi aku lebih suka membungkus film ini dengan fun, bermakna dan berisi karena 'Arisan!2' bukan film melodrama.

Film 'Arisan!' hingga sekuelnya Arisan!2 banyak menganggap karya fenomenal dibanding film Anda yang lain?
Aku anggap semua film produksiku sama. Semua film yang telah aku buat bersifat personal, dan sedikit banyak ada kaitannya dengan diriku. Dalam membuat film aku selalu melakukan riset dan treatment visual. Selain itu, setiap film aku perlakukan seperti sang anak. Jadi tidak ada anak emas. Prinsipku membuat film layaknya melahirkan sebuah bayi yang kemudian berkembang dewasa dan bebas menentukan arah kehidupannya sendiri.

Masih menyimpan mimpi atau obsesi yang belum tertuntaskan dalam memproduksi film?
Pingin banget rasanya membuat film bertemakan politik. Bagaimana alur cerita atau kisahnya masih tertanam dalam otakku. Biarpun bergenre tentang politik bukan berarti ikut-ikutan latah karena akan dibuat menjelang Pemilu 2014.