Korean Masculinities and Transcultural Consumption (Rain, K-Pop Idols, Yonsama, Oldboy)
Senin, 21 November 2011
Budaya Korea mulai memasuki ranah internasional, bahkan tak kalah femomenalnya budaya ini mempengaruhi para penikmatnya di dunia internasional. Hal ini dipicu kebangkitan perekonomian Korea yang mulai dipertimbangkan dunia internasional. Kebangkitan K-Pop salah satu strategi yang tepat disaat pemerintah Korea sedang gencar-gencar mengangkat budaya Korea ke kancah international.
Fenomena itu coba diangkat Sun Jung dalam bukunya yang menceritakan budaya pop-Korea yang pada awalnya stagnan, namun kini digemari remaja-remaja hampir di seluruh dunia. Budaya pop-Korea ini pun sebenarnya muncul dari campuran budaya Barat dan Timur yang digabungkan tanpa mengurangi nilai asli budaya Korea. Fashion pop-Korea pun lahir dari konsumsi transkultural yang diserap remaja-remaja Korea sehingga kiblat fashion dunia kini mulai beralih pada pop-Korea.
Buku ini juga mengupas mengenai sisi psikologis dari kemajuan pop-Korea? Sisi maskulinitas aktor, model, dan penyanyi Korea mampu membius wanita-wanita di dunia atas ketampanan dan modis dalam berpakaian. Namun bagi masyarakat Korea sendiri hal tersebut merupakan suatu hal dramatis yang dinikmati remaja-remaja wanita dan juga pria. Sangat disayangkan pula karena di tahun ini, budaya pop-Korea mulai melupakan sifat nasionalisme secara perlahan.
Sun Jung juga mengetengahkan investigasinya mengenai konsumsi transkultural masyarakat Korea yang direpresentasikan oleh tiga figure/icon seperti Bae Yong-Joon, penyanyi dan aktor 'Rain', dan film horror 'Oldboy'. Melalui ketiganya dapat dilihat bagaimana sisi maskulinitas dari boyband Korea yang seringkali dikatakan tampil dengan kesan 'manis nan trendi'
Budaya pop-Korea ini merupakan soft power yang didukung oleh pemerintah Korea dalam menampilkan diri di kancah internasional. Disebut oleh penulis bahwa strategi ini adalah langkah awal bagi Korea dalam mendekatkan diri dengan Amerika Serikat. Tidak lain bahwa hal ini memiliki orientasi politik.
Oreintasi ini memancing kritik para pengamat budaya yang berasumsi maskulinitas dalam budaya pop-Korea sebagai dampak global dari postmodernism. Penulis berargumen sisi maskulinitas entertainer Korea ini sebagai rekonstruksi dari dinamika Korea (Korean Wave). Sang penulis merupakan seorang peneliti di School of Communication and The Arts di Universitas Victoria.
Penasaran bagaimana sesungguhnya K-Pop dapat merambah hampir ke seluruh penjuru dunia, buku ini sedikikt banyak memberikan pengetahuan tentang hal itu. (mei)
Judul Buku: Korean Masculinities and Transcultural Consumption (Rain, K-Pop Idols, Yonsama, Oldboy)
Penulis : Sun Jung
Penerbit : Hongkong University Press (2011)
Fenomena itu coba diangkat Sun Jung dalam bukunya yang menceritakan budaya pop-Korea yang pada awalnya stagnan, namun kini digemari remaja-remaja hampir di seluruh dunia. Budaya pop-Korea ini pun sebenarnya muncul dari campuran budaya Barat dan Timur yang digabungkan tanpa mengurangi nilai asli budaya Korea. Fashion pop-Korea pun lahir dari konsumsi transkultural yang diserap remaja-remaja Korea sehingga kiblat fashion dunia kini mulai beralih pada pop-Korea.
Buku ini juga mengupas mengenai sisi psikologis dari kemajuan pop-Korea? Sisi maskulinitas aktor, model, dan penyanyi Korea mampu membius wanita-wanita di dunia atas ketampanan dan modis dalam berpakaian. Namun bagi masyarakat Korea sendiri hal tersebut merupakan suatu hal dramatis yang dinikmati remaja-remaja wanita dan juga pria. Sangat disayangkan pula karena di tahun ini, budaya pop-Korea mulai melupakan sifat nasionalisme secara perlahan.
Sun Jung juga mengetengahkan investigasinya mengenai konsumsi transkultural masyarakat Korea yang direpresentasikan oleh tiga figure/icon seperti Bae Yong-Joon, penyanyi dan aktor 'Rain', dan film horror 'Oldboy'. Melalui ketiganya dapat dilihat bagaimana sisi maskulinitas dari boyband Korea yang seringkali dikatakan tampil dengan kesan 'manis nan trendi'
Budaya pop-Korea ini merupakan soft power yang didukung oleh pemerintah Korea dalam menampilkan diri di kancah internasional. Disebut oleh penulis bahwa strategi ini adalah langkah awal bagi Korea dalam mendekatkan diri dengan Amerika Serikat. Tidak lain bahwa hal ini memiliki orientasi politik.
Oreintasi ini memancing kritik para pengamat budaya yang berasumsi maskulinitas dalam budaya pop-Korea sebagai dampak global dari postmodernism. Penulis berargumen sisi maskulinitas entertainer Korea ini sebagai rekonstruksi dari dinamika Korea (Korean Wave). Sang penulis merupakan seorang peneliti di School of Communication and The Arts di Universitas Victoria.
Penasaran bagaimana sesungguhnya K-Pop dapat merambah hampir ke seluruh penjuru dunia, buku ini sedikikt banyak memberikan pengetahuan tentang hal itu. (mei)
Judul Buku: Korean Masculinities and Transcultural Consumption (Rain, K-Pop Idols, Yonsama, Oldboy)
Penulis : Sun Jung
Penerbit : Hongkong University Press (2011)
Entertaiment Articles
- Brave Film Animasi Pixar Rilis Trailer Terbaru
- Ayah Mengapa Aku Berbeda ? Susah Menitikan Airmata
- David Guetta Serukan Kesatuan di 'Without You'
- Besok, Andi Soraya Lepas Status Janda
- O Klinik Jalan-jalan Ke Posyandu
- Foto Poppy Dharsono Saat Mengenang 40 Hari Wafatnya Moerdiono
- Foto-foto Terbaru Milla Jovovich di 'Resident Evil: Retribution'
Others Articles
- Drama Terbaru Kim Bum "Padam Padam" Rilis Teaser Trailer
- SHINee Minho dan Taemin Menjadi Robot Untuk Majalah Vogue
- 45.000 Tiket Konser Jang Geun Suk Terjual Habis
- CN BLUE Band Asing Pertama Di "Countdown Japan Festival"
- MAMA 2011 Akan Menampilkan 20 Selebriti sebagai Presenter Acara.
- Apel vs Gigi
- Tattooth


Igor Saykoji Lantunkan 'Alusiau' Bergaya Rap di Opera Batak
Candy Mafia Pengusung Genre Thai-Pop
Candy Mafia : Dari Kpop Fans jadi Ngetop
Sharon Stone Perankan Ibu Bintang Porno
Coldplay 'Major Minus' Susul Sukses 'Every Teardrop Is a Waterfall'