The King Of Fighters: Pertarungan Dalam Dua Dimensi Berbeda
Minggu, 29 Agustus 2010
Ditilik dari judulnya film 'The King Of Fighters' orang pasti membayangkan betapa serunya duel yang akan disajikan dilayar lebar. Apalagi film yang diadaptasi dari game online yang menorehkan sukses di tahun 1990 memang membuat penasaran ketika diangkat dilayar lebar. Jaminan duel didua dimensi tentunya menambah rasa keingintahuan penonton.
Setting ceritanya bermula tiga klan terbesar Kusanagi, Yagami dan Kagura bersatu melawan Rugal tokoh jahat yang ingin menyatukan dunia nyata dan dunia maya. Dalam pertempuran yang berlangsung sengit tiga lawan satu Ruga dapat dipukul dan bersembunyi di dunia atau dimensi lain. Namun persoalan tidak selesai disitu saja. Iori Yagami (Will Yun Lee) diluar kesadarannya membinasakan Saisyu Kusanagi (Hiro Kanagawa). Buntutnya Kyo Kusanagi (Sean Faris) putra semata wayang Saisyu Kusanagi menyimpan dendam pada Iori Yagami.
Beruntung Chizuru Kagura (Françoise Yip) menyadarkan Kyo bahwa musuh sebenarnya adalah Rugal (Ray Park). Chizuru menugaskan Mai Shiranui (Maggie Q) dibantu Iori mengawal Kyo melawan Rugal. Arti pentingnya sosok Kyo harus diutamakan karena dia pemegang pedang wasiat dan satu-satunya generasi penerus klan Kusanagi yang terakhir.
Mengalahkan Rugal bukanlah pekerjaan ringan. Jual beli pukulan dan ilmu harus dilakukan di dimensi lain. Untuk menuju ke sana setiap orang harus memakai sebuah alat yang diletakan ditelinga yang menyerupai anting. Kendati harus meladeni 5 pendekar ketangguhan Rugal tetap susah dirobohkan.
Satu hal dari film yang mengangkat tema heroisme adalah mengalahkan musuh secara keroyokan. 'The King of Fighters' tak lebih kurang demikian. Hanya sayangnya ending film ini terlalu datar dan kurang klimaks. Terkena pukulan muka bengap dan ceceran darah adalah pandangan yang lazim mengemuka setiap adanya adegan perkelahian. Di sini pemandangan itu sangatlah minim hanya terjadi saat Rugal terjungkal.
Perkelahian demi perkelahian yang sebetulnya menjadi jualan film yang digarap sutradara Gordan Chan ('The Medalion' and 'First of Legend') juga kurang menggigit. Harapan melihat kualitas adu jotos yang dikemas dengan special efek canggih juga tidak terlihat. Wajar jika film ini dimata para kritisi film seperti melanggengkan produk Hollywood yang kurang berhasil mengadaptasi cerita kesuksesan di permainan game-nya diangkat ke layar lebar. (and/photo: ist)


Vin Diesel Dapat Tantangan Baru di Sekuel Film 'The Chronicles of Riddick: Dead Man Stalking'
Radiohead Bantah Akan Rilis 'The King of Limbs Part 2'
'Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides' Tembus Angka Penjualan Tertinggi
'The Lion King 3D' Kuasai Box Office
The Twilight Saga's Breaking Dawn Part I Bertengger Dipuncak Box Office
The Adventures of Tintin Siap Sapa Penggemarnya Desember 2011
Opick Sapa Ramadhan Luncurkan 'The Best of Opick'
The Oprah Winfrey Show Bakal Berakhir Di 2011
Angelina Jolie Jajal Debutnya Jadi Sutradara
iPod Nano Tanpa Tombol Click Wheel
Epson Stylus Photo All in One Printer
Resep Cantik Lidah Buaya